SISI GELAP KAMPUS

AGITASI.ID – Bermula dari tulisan bertajuk “DIBALIK INAUGURASI UIN KHAS JEMBER : DIALEKTIKA SEPI, KONSER PUN JADI”; sebuah fenomena yang baru saja terjadi di kampus UIN KHAS Jember (03/11). Khususnya persoalan Inaugurasi yang sudah menjadi budaya kampus, namun tanpa basa-basi diganti dengan konser musik hedonis. Tulisan ini adalah respon lanjutan untuk kembali menilai setiap budaya di pojok-pojok perguruan tinggi ini, seraya memberikan tambahan perspektif bagi pembaca, untuk lebih menyadari hal apa saja yang dinormalisasi.

Hal demikian berbuntut menjadi sebuah pertanyaan panjang. Namun yang pasti, bukan pertanyaan tentang apakah penyebab dari adanya acara tersebut. Melainkan sisi gelap apalagi yang patut disorot dalam dunia kampus, sehingga dapat menyadarkan serta merefleksikan kembali.

Bacaan Lainnya

Apakah dunia kampus sekarang sudah begitu nasibnya ?, ataukah memang segala fenomena yang terjadi sudah dinormalisasi. Bukanlah tempat horor sisi gelap yang dimaksud, tepatnya adalah kemirisan atas apa yang terjadi dalam dunia akademik perguruan tinggi.

Bagi kaum akademik yang mempunyai label sapaan masing-masing, mulai dari label Mahasiswa, Dosen, Dekan, dan Rektor, hanya itu saja yang dapat penulis sebutkan, karena bukan ajang penyebutan nama urut absen pembagian roti (baca : kekuasaan), jadi tak perlu semua disebutkan, khawatir ada yang tidak disebutkan atau tidak kebagian roti nanti cemburu.

Patu kita sadari bersama, bagi yang sadar. Kampus yang menjadi tempat proses pendidikan, kini sudah bergeser jauh dari apa yang telah terumus dalam Tri Dharmanya. Aforisme berbunyi; “Tri Dharma Perguruan Tinggi : Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian” hanya dijadikan determinasi institusi yang lama tertempel bahkan berlumut di papan akademik.

Baca Juga :  AJAKAN NGOPI DAN RUPA-RUPA MOTIFNYA

Meski tidak semua kampus bisa dipukul rata seperti demikian, tapi fenomena ini sudah muncul. Peter Fleming memiliki pandangan dalam bukunya “Dark Academia : How Universities Die”; bahwa sebuah fenomena yang terjadi di kampus atau perguruan tinggi sudah tidak sesuai dengan prinsip yang diembannya.

Arya Hadi Dharmawan Guru besar Fakultas Ekologi Manusia IPB, meyakini bahwa ada beberapa hal sisi gelap kampus yang ditulis Fleming, diantaranya ; Kampus yang tendensius elitis, serupa pabrik pengetahuan, fokus pada birokratisasi kampus, nihilnya kebebasan akademik, dan akademisi asongan.

Namun, sisi gelap kampus yang akan penulis paparkan agak beda atau bahkan mengalami kemajuan yang semakin parah. Kemajuan kok makin parah, gimana sih.

MAHASISWA JADI KORBAN EKSPLOITASI JURNAL DOSEN

Kelihatannya, nalar mahasiswa lebih idealis dan kritis dalam menanggapi problematika sosial. Tetapi siapa tau kalau ternyata mereka sudah terjebak dalam lobang eksploitasi nalar. Mungkin dirasa asyik jika itu berorientasi cuan, tapi sedikit berbeda bagi mereka yang menganggapnya itu merupakan bagian dari proses belajar.

Mahasiswa yang sudah terperangkap oleh dosen kesayangannya, dan sebagai kolega kerja sama publikasi jurnal, entah dapat pesanan proyek karya ilmiah dari guru besar atau untuk mengejar jumlah publikasi jurnal demi capaian titel dosen.

Hal itu kalau dibiarkan akan menjadi fenomena budaya akademik dan dianggap wajar. Padahal, tidak semua dosen bisa dipercaya bahwa dari kerja sama menulis karya ilmiah, itu juga merupakan hasil jerih payah mahasiswanya. Pernahkah kalian mengalaminya, semoga segera sadar !.

AKADEMISI ABAL-ABAL : Sarjana Bergengsi, Skripsi Hasil Joki !

Bagi mahasiswa, mengejar gelar sarjana adalah cita-cita yang harus segera dituntaskan. Apalagi jika sudah terkena stimulus gorengan guyonan balapan seminar proposal (Term anak UIN Jember : Sempro) dan sidang skripsi, nada bicaranya pun sudah berbeda, bahkan rela bersemedi berminggu-minggu di kamar kos, demi menuruti kencan dengan tugas skripsinya. Tambah parahnya, ada yang tanya “Sudah makan apa belum ? Jawabnya, gak perlu diingatkan, Aq gak mood makan,”.

Tak pandang sulit atau tidak saat menjalani tugas skripsi, namun bagi mereka yang punya uang dan malas mikir akan merasa gampang, karena digarapkan tukang joki. Anehnya, itu pun disusul dengan hal yang jarang diketahui oleh sebagian publik, yaitu praktik lobby yang lihai pada dosennya. Gimana gak dilobby, dosennya saja orang satu daerah dengannya.

Baca Juga :  INDONESIA : Bualan Politik dan Tumpukan Rasa Lelah

Perasaan euforia setelah menyandang gelar sarjana hanya berkisar 1 Hari sampai seminggu saja. Selebihnya, mereka langsung dihadapkan dengan slogan “Inpo Loker !”. Tentu sebuah pertanyaan yang patut disayangkan, jika seorang akademisi memiliki titel sarjana hanya jadi ajang gengsi saat silaturrahmi pada sanak saudara, dan sesama temannya yang bukan berlatar belakang sarjana. Pada titik inilah, penulis menyebutnya dengan sebutan akademisi abal-abal.

MATINYA NALAR MAHASISWA

Karya Tom Nichols yang berjudul “Matinya Kepakaran”, memaparkan ada tiga hal yang menyebabkan matinya kepakaran, yaitu komersialisasi pendidikan, jurnalisme yang buruk, dan munculnya media sosial. Maka, tidak menutup kemungkinan juga terjadi matinya nalar mahasiswa.

Pasalnya, kalau mahasiswa, baik yang organisatoris-ortodoks maupun akademis-ekstremis tidak lagi merasa tertarik dengan kegiatan yang sifatnya dialektika ilmiah, budaya intelektual, kajian keilmuan, advokasi isu sosial, dan malah lebih tertarik dengan budaya hedon, euforia konser musik, terdekte oleh game judi online, jangan heran jika kampus hanya dipenuhi oleh seekor hewan yang terpaksa mencari gelar.

Oleh karena itu, segala upaya penyadaran patut segera dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit sisi gelap kampus, entah melalui kritik, counter wacana, sehingga apa yang selama ini terjadi tidak memakan korban eksploitasi selanjutnya, dan mahasiswa bisa sadar bahwa mereka adalah manusia bukan hewan akademik semata.

Penulis : Fadli Raghiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *