Jember, Agitasi.id – Kehebatan media sosial dalam mengambil alih dunia memang tak bisa dipandang sebelah mata. Ide, gagasan, dan argumen seseorang kini mampu mempengaruhi kepala banyak orang. Pun, dengan maksud menyebarkan dakwah. Namun sayang, minim kesadaran generasi sekarang terutama santri akan peluang tersebut. Sama halnya maksud dari diselanggarakannya acara Webinar & call for paper “Literasi Santri Ditengah Arus Perubahan” dalam rangka Hari santri nasional, yang digelar oleh (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia) LAKPESDAM PCNU Jember, bertempat di Gedung Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember pada tanggal 18 Oktober 2021 kemarin.

Acara yang memfokuskan kepada santri yang ada di seluruh Indonesia, untuk ikut meramaikan sosial media dalam hal literasi, ini telah diperjelas oleh Prof. Dr. Ahidul Asror, M. Ag sekaligus ketua LAKPESDAM PCNU Jember, disela-sela sambutannya. “seorang santri harus bisa berperang ditengah arus perubahan yang sangat cepat dan harus dihadapi dengan bijak,” tuturnya.

Savic Ali, sebagai pemateri pertamanya, cukup untuk membuat semua orang geleng kepala, pasalnya pria yang dikenal sebagai Direktur NU online ini itu memberikan penjelasan tentang perkembangan dan pertikaian wacana Islam yang terjadi dalam skala nasional bahkan internasional. Menurutnya, seluruh persoalan dapat dihadapi dengan berpacu pada bagaimana santri memanfaatkan media sosial yang telah menjadi new battlefield tentang ideologi gagasan politik dan sebagainya. “Mayoritas masyarakat Indonesia adalah Islam, setiap masyarakat Indonesia yang ingin belajar tentang agama Islam pasti acuannya tetap pada media sosial, maka dari itu perlu di perhatikan pentingnya untuk lebih menekankan pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah, terutama untuk santri,” tegas beliau.

Dilanjut Pemateri kedua, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh , M.A, atau akrabnya dipanggil Ninik, perempuan cerdas yang memduduki jabatan sebagai DPR RI, pemaparannya lebih kepada literasi santri ditengah arus informasi dan perubahan, dimana literasi dapat menjadi kunci keberhasilan untuk berdakwah. Terlihat seriusnya peserta dalam memperhatikan pemaparan beliau. Dalam krisisnya beliau memberikan sebuah tips mengenai kunci keberhasilan literasi santri, salah satu tipsnya yang mungkin perlu diingat oleh para santri adalah tentang metode dakwah santri pada era modern. “Era metode dakwah santri saat ini tidak lagi dengan lisan, tapi harus dibarengi dengan tulisan serta pemanfaatan sarana informasi dan teknologi, jadi memang sudah tidak bisa lagi kita pergi dari media sosial, dengan adanya media sosial apapun bisa inject distu,” tuturnya.

Pada sesi pertanyaaan, ada hal penting, sebab melibatkan kesadaran Kyai dan para ustad untuk melakukan Dakwah dimedia sosial yang nantinya akan menjadi refrensi dikalangan santri sampai mahasiswa. Savic Ali memaparkan jawaban yang sederhana untuk menanggapi pertanyaan tersebut yaitu dengan menjelaskan,“Hal itu sangat mudah sebab sudah banyak contohnya. Contoh simpelnya merekam pada kajian rutinan, atau sekedar ngajinya para santri, tinggal nanti bagaimana komunikasinya dengan kyai,”. Hal senada disampaikan juga Ibu Nihayah, (sapaan akrab) Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh , M.A. Beliau memaparkan tentang situasi pandemi telah memunculkan sebuah ide untuk membuat chanel di berbagai media sosial untuk melakukan dakwah secara online, hal itu ternyata memang efektif, dikarenakan dapat menjangkau dari segala penjuru, dimanapun dan kapan pun itu. Namun kembali lagi, kuncinya harus memulai, bisa dari hal yang paling sederhana, seperti quote kyai dan semacamnya. “Peran NU sangat penting dalam merawat Indonesia, generasi NU harus punya rasa tanggung jawab,” tegas Savic Ali. Setelah berjalan beberapa jam, tepat jam 14.00 Acara ini ditutup. “Jangan marah dalam kegelapan, kalau kita saja belum pernah menghidupkan lilin,” imbuh ibu Nihayah dalam closing statementnya.

Pewarta : Binti Novitasari & Adval

Editor : Muhammad Riyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.