JEMBER, AGITASI.ID –  Menjadi pengelola kos bukanlah pekerjaan yang pyur santai, apalagi bagi seorang pria muda yang menjaga kos putri, ujiannya jelas berat di mata sampai ke hati. Tapi mbok ya jangan sampai nyosor anak kosnya juga, Itu sama sekali nggak waras dan jauh dari budaya ideal In de kost.

Jaman koloni dahulu, waktu awal dimana budaya barat benar-benar digandrungi mayoritas masyarakat pribumi, ­­“in de kost” adalah salah satu dari sekian gaya hidup (budaya) yang populer di kalangan pribumi menengah ke atas. Budaya ini layaknya sebuah permata moral bagi siapa saja yang mampu menjalaninya.

Mereka para pribumi yang sangat mengagungkan budaya barat, wabil khusus bangsa Belanda yang menjadi kiblat kaum paling keren pada waktu itu, berharap agar anaknya bisa berperilaku dan bersikap layaknya bangsa Eropa atau Belanda itu sendiri. Jelas posisi bangsa Eropa jaman itu memang dipandang paling bermartabat dan terhormat.

Budaya ini dijalani dengan cara awal membayarkan sejumlah uang kepada orang Belanda sebagai jaminan, lalu anaknya diperbolehkan untuk bertempat tinggal dan hidup bersama meraka. Dengan beberapa syarat yang sudah disepakati dan telah diperthitungkan, resmilah anak tersebut menjadi anak angkat keluarga Belanda. Selain bisa makan dan tidur bersama orang-orang Belanda, anak tesebut juga mempunyai peluang untuk belajar dan terus-menerus beradaptasi dengan gaya hidup yang dianggap mulia tersebut. Dari sinilah awal mula terminologi in de kost dapat kita pahami, yaitu segenap usaha  untuk mengadaptasikan diri dengan gaya hidup serta tradisi Eropa.

Selang berjalannya waktu dan zaman yang makin moderen, budaya ini mengalami peralihan, bahkan cenderung beraroma contradictio in terminis. Budaya yang awalnya dijalani dengan adanya harapan moral tertentu yang menjadi tujuan, sekarang seakan-akan hanya menjadi laku wajar tiap orang yang tak lagi menjadi bahan perdebatan serius. Tak paham betul tahapan-tahapan ataupun babakan peristiwa dan pergeseran nilai yang menjadi sebab terjadinya peralihan ini, yang pasti budaya ini sekarang lebih umum dikenal dengan  “kost”, dan lebih umum lagi laku ini disebut “ngekos”.

Berbeda dengan budaya awal (in de kost) yang mempunyai hubungan erat ihwal moral, perilaku dan sikap. Kost hari ini hanya dipahami sebagai sebuah hal wajar yang dilakukan oleh setiap orang tanpa adanya batas strata sosial. Untuk menjalaninya pula cukup mudah, diawali dengan pemilik kost menawarkan sebuah kamar untuk ditempati, lalu dilanjutkan dengan pembayaran sejumlah uang dari mereka yang ingin menempati. Hal ini wajib disepakati kedua pihak antara pemilik kos dan yang mau ngekos, jelas dengan ketentuan waktu masa ngekos dan aturan-aturan lain. Peralihan juga jelas nampak pada interaksi sosial kedua belah pihak, jika dahulu peran keluarga belanda mempunyai tanggung jawab moral terhadap anak yang dipasrahkan, sekarang hanya sekedar pelayanan jasa dan perlindungan saja. Intinya kost sekarang adalah salah satu lahan bisnis yang tak banyak menguras tenaga, berpenghasilan pasti, dan oke banget lah intinya.

Kost hari ini sangat mudah dijumpai, apalagi pada kota-kota yang menjadi sentral perguruan tinggi dan pusat rantau. Termasuk juga di kota Jember, tempat saya menimbah ilmu hari ini.

Kost di Jember lebih banyak saya temukan mulai dari daerah Rambipuji sampai Sumbersari, dengan berbagai varian kost putra, kos putri, sampai dengan kos bebas pasutri legal dan ilegal. Budgetnya  juga banyak macam sesuai dengan fasilitas kenyamanan dan keamanan yang disediakan. Pemiliknya pula juga beragam dengan moral dan imannya masing-masing.

Lantas apakah semua kos hari ini menjamin ruang aman? Lebih-lebih untuk perempuan? Saya tegaskan tidak!

Terbukti kemaren siang, atas dasar kutipan kabar yang dilayangkan oleh Unit Pers Mahasiswa (UPM) Millenium Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, ada salah satu kos yang tak aman, lebih simple pemiliknya gatel.

Dari deretan fakta yang saya temui, pemilik kos tersebut berinisal IM (22) yang masih mengemban status sebagai mahasiswa semester 5 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Dan korban juga seorang mahasiswi UIN KHAS Jember dengan inisial NA

Pendek kata, menurut keterangan korban. Kronologi kejadian tersebut bermula saat korban akan pulang ke rumahnya, dan saat setelah turun dari tangga kamar kosnya, pak kos bringas tersebut sigap menghadangnya. Dengan diawali beberapa pertanyaan yang ia lontarkan, langsung nyosor begitu saja.

Anehnya pak kos tersebut langsung menyadari kelakuan bejatnya tadi, dan langsung mengejar korban dengan memohon untuk tutup mulut. Tak cukup itu, pelaku juga memohon maaf pada korban melalui pesan ­WhatsApp-nya. Pesan tersebut juga berisikan pengakuan jika otak sang  pelaku sedang diskonek.

Mbok ya kalo pusing minum obat toh masss.. main nyosor aja, nyesel kan? Hmmmm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.