PEPATAH dan GAME SLOT

AGITASI.ID – Di bawah langit yang biru dan di atas tanah yang subur, berdiri sebuah negara yang dikenal sebagai rumah bagi umat beragama. Indonesia, sebuah permata di khatulistiwa, dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, di balik lantunan azan dan gemerlap lampu di malam hari, ada sebuah ironi yang meresahkan. Ironi yang seperti bayangan di tengah terik matahari; selalu ada, namun seringkali terabaikan. Negara yang beragama ini, yang masyarakatnya setiap hari menjalankan ibadah dan mengekspresikan kepercayaannya, juga menjadi tempat berkembangnya perjudian online. Fenomena ini juga seperti angin laut yang membawa garam; tidak terlihat, namun memberikan rasa pada setiap tetesan airnya.

Di antara gemerlap lampu dan hiruk pikuk kehidupan, ada satu fenomena yang terus merajalela, merambah ruang dan waktu, mencuri perhatian dan menggoda iman. Fenomena itu adalah perjudian online. Seperti air yang mengalir tak terbendung, perjudian online, khususnya game slot, telah menjadi jalan kehidupan sehari-hari orang Indonesia.

Perjudian dalam bentuk apa pun dilarang dalam banyak agama, termasuk Islam. Meski begitu, fakta popularitasnya terus meningkat, sebab didorong oleh kemajuan teknologi dan aksesibilitas internet. Mungkin ada yang berpendapat bahwa game slot hanyalah bentuk hiburan, cara untuk mengisi waktu luang dan melupakan sejenak kepenatan hidup.

Namun, apakah benar demikian?. Apakah kita bisa memisahkan hiburan dari nilai-nilai moral dan agama yang kita anut?. Apakah kita bisa memisahkan kehidupan kita menjadi kompartemen-kompartemen terpisah, di mana agama dan moral di satu sisi berlaku dan di sisi lain hiburan juga berlaku?.

Seperti pepatah lama, “Air tenang menghanyutkan”. Kita telah terlena sehingga melupakan nilai-nilai agama dan moral yang seharusnya kita pegang teguh, serta terjebak dalam pusaran hiburan digital dan melupakan bahwa ada batas-batas yang tidak boleh kita langgar.

Baca Juga :  " STOP SAYING GAPAPA "

Kita tidak bisa hanya menyalahkan teknologi atau hiburan digital. Kita juga perlu melihat ke dalam diri kita sendiri dan bertanya; apakah kita benar-benar menjalankan ajaran agama kita, atau apakah kita hanya mengikuti aturan dan ritual tanpa benar-benar memahami atau menerapkan nilai-nilai yang mendasarinya?.

Oleh karena itu, pepatah pernah berkata; “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Sebagai negara beragama, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankan nilai-nilai agama dan moral yang kita anut. Kita tidak bisa membiarkan diri kita tergelincir ke dalam perangkap hiburan digital yang berpotensi merusak nilai-nilai ini.

Kita perlu mengambil sikap, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat untuk menentang perjudian online dan segala bentuk hiburan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral kita. Kita perlu mengedukasi diri kita dan orang lain tentang bahaya perjudian online dan bagaimana hal ini bisa merusak nilai-nilai agama dan moral kita.

Pepatah pun berkata, “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri”. Kita perlu kembali ke nilai-nilai agama dan moral kita, dan menjadikan mereka sebagai panduan dalam hidup kita. Kita perlu menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai ini, dan tidak membiarkan hiburan digital mengaburkan pandangan kita.

Negara beragama tapi berjudi, ini adalah paradoks yang harus kita hadapi. Namun, dengan pendidikan, regulasi, dan refleksi, saya percaya bahwa kita bisa menavigasi melalui paradoks ini dan menciptakan masyarakat yang lebih seimbang dan harmonis, di mana keyakinan agama dan perilaku berjalan seiringan.

Seperti senja yang meredup, paradoks ini membutuhkan refleksi dan introspeksi dari kita semua. Sebagai negara yang beragama, kita harus berusaha lebih keras untuk memastikan bahwa perilaku kita sejalan dengan nilai-nilai agama yang kita anut. Tidak peduli seberapa menarik atau menghiburnya, perjudian online bukanlah sesuatu yang sejalan dengan ajaran Islam atau agama lainnya.

Baca Juga :  Amoral Balap Liar Jember dan Sisi Gelapnya

Akhirnya, teringat kata pepatah lagi, “Tak ada gading yang tak retak”. Paradoks ini adalah retaknya, dan sekarang tugas kita untuk memperbaikinya. Kita perlu bergerak dari kata-kata ke tindakan, dari retorika ke realitas. Kita perlu menunjukkan kepada dunia, dan lebih penting lagi kepada diri kita sendiri, bahwa kita bukan hanya negara beragama, tapi juga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan kita.

Mari kita bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang beragama dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika.

Penulis : Yahya Z.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *