Senandika elegi yang kembali menyeruak
Di balik tirai rumah yang kusut dan kotor
Aku masih ingat saat ayah dan ibu memilih itu
Memilih untuk memasing-masingkan hidup
Seketika itupun hidupku berubah jadi redup
Tak ada cahaya setitik pun didalamnya
Dinding-dindingnya lembab
Nyenyat
Sesekali ada nyanyian surau
Mendesir setelah itu berhenti lagi
Terus saja seperti itu
Entah ini cobaan untuk menguatkan
Atau bala untuk menjatuhkan
Namun aku percaya selalu
Tuhan begitu perhatian
Bakal memberi kebahagiaan di hari kemudian.

oleh : Widiya Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.