Komodifikasi Ugal-Ugalan, Budaya Batik di Kota Jember Terancam

Ilustrasi : Agitasi/Alfa Reza

AGITASI.ID – Kota Jember, sebuah kota yang dikenal dengan keberagaman budaya dan kaya akan tradisinya. Saat ini menghadapi tantangan serius akibat praktik komodifikasi budaya yang semakin meluas. Fenomena ini telah menimbulkan dampak yang signifikan terhadap nilai-nilai budaya dan identitas lokal masyarakat Jember.

Salah satu contoh nyata dari dampak komodifikasi budaya di Kota Jember adalah produksi batik. Batik dengan motif-motif khasnya yang sarat dengan makna dan sejarah, seringkali diproduksi secara massal tanpa memperhatikan esensi budaya asli. Hal ini dapat mengancam keberlangsungan keaslian motif-motif tradisional yang melekat pada batik.

Bacaan Lainnya

“Sebagai produsen batik, saya merasakan tekanan untuk memproduksi batik dengan motif yang ‘komersial’. Namun, saya juga sadar akan pentingnya mempertahankan keaslian motif-motif tradisional agar warisan budaya Jember tetap hidup,” ujar Dewi Susanti salah satu Pemilik Usaha Batik Jember.

Bukan hanya produksinya, penjualan batik yang serampangan telah banyak ditemukan di pasar Baju Bekas Bos (Babebo) maupun di pinggir jalan (butik kecil). Mereka yang menjual batik itu bahkan tidak tau keaslian dan arti sesungguhanya dari motifnya. Hal ini akan menurunkan nilai-nilai kebudayaan yang terkandung pada setiap motifnya.

“Saya tidak tau menau batik apa yang saya jual, saya hanya mencari nafkah dengan menjual baju bekas yang saya dapatkan di sumber tertentu,” kata salah satu pedagang di Babebo.

Dalam hal ini, para tokoh budaya dan pemangku kepentingan di Kota Jember, mulai mengambil langkah-langkah untuk melindungi warisan budaya dan identitas lokal dari dampak negatif komodifikasi. Dengan melakukan kolaborasi para tokoh budaya dan pemerintah. Akan tetapi kolaborasi ini masih belum cukup kuat, dibuktikan dengan masih banyaknya produksi batik secara masal dan penjualan serampangan.

Baca Juga :  Meski KPPS Jadi Menantu Idaman, Mereka Boleh Bercanda Asal Tetap Netral

Pegiat Budaya Siti Rahayu, memunculkan perasaan prihatin dengan arah komodifikasi budaya di Kota Jember. Menurutnya, budaya bukan suatu barang dagangan yang dapat diperjual belikan. Namun budaya adalah sesuatu yang wajib dilestarikan dan dijaga keaslianya.

“Saya sangat prihatin dengan arah perkembangan komodifikasi budaya di Jember. Kita harus memahami bahwa budaya bukanlah semata-mata barang dagangan, melainkan warisan yang harus dijaga dengan baik,”.

Dengan kesadaran akan pentingnya menjaga keberagaman budaya dan identitas lokal. Diharapkan pemerintah Jember dapat memunculkan solusi untuk mengatasi komodifikasi budaya tersebut.

Baik dari regulasi yang ketat, maupun memperkuat kolaborasi antar pihak (pemerintah, akademisi, pegiat budaya, dan masyarakat). Hal ini dilakukan untuk mengembangkan strategi pelestarian budaya yang berkelanjutan.

Penulis : Roudlotul Atfal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *