Komeng, Bentuk Perlawanan Mitos “Banyak Uang Pasti Menang”

Ilustrasi : Agitasi/Majid

AGITASI.ID Kontestasi calon dewan berlangsung sengit di Pemilu 2024. Modal yang dipertaruhkan tak tanggung-tanggung. Mulai dari mobil hingga ginjal rela dikorbankan untuk mendapatkan uang sebagai modal mendapatkan suara terbanyak.

Padahal, modal politik sebenarnya tidak harus uang. Walaupun tak bisa dipungkiri, uang dapat mendongkrak kemenangan dalam politik, namun tidak semuanya. Masih ada calon dewan yang menang tanpa modal uang.

Bacaan Lainnya

Mencalonkan diri jadi sebagai calon dewan, baik Dewan Perwakilan Daerah (DPD) maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memang terkesan mahal dan mengorbankan segala apapun yang dimiliki. Persepsi demikian benar terjadi pada Erfin Dewi Sudanto. Caleg DPRD Bodowoso dari partai PAN Dapil 1 (Kecamatan Kota, Tenggarang, dan Wonosari).

Dirinya sempat akan menjual ginjal untuk biaya kampanye. Kondisi demikian tentu karena semakin menguatnya budaya money politic dewasa ini.

Langkah ini terpaksa saya lakukan. Sebab, saya melihat kondisi demokrasi di Indonesia saat ini memprihatinkan,” Jujur Erfin yang dilansir dari laman detikjatim.com, Selasa (16/01/2024).

Na’asnya, sesuai data si Rekap KPU pada Selasa (20/2/2024) pukul 15.16 WIB, caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu hanya memperoleh 43 suara. Namun, untungnya, konon ia ikhtiar menjual ginjalnya tidak berhenti di ranah politik. Ia tetap akan berjuang di jalur kemanusiaan jika ada yang berniat menawarnya. Ia berkata, “Kemarin ikhtiar via jalur politik. Saat ini tetap. Tapi lewat jalur kemanusiaan. Artinya tetap untuk kepentingan masyarakat dan kemanusiaan,”.

Hal serupa juga dilakukan oleh Dede Sunandar. Seorang artis yang turut serta ikut mencalonkan diri jadi caleg DPRD Kota Bekasi Dapil V dari Partai Perindo. Demi meraih suara, Dede rela menjual 2 unit mobil untuk biaya kampanyenya.

Baca Juga :  Gen-Z Berhak Bebas Memilih di Pemilu 2024

Tampaknya, ia juga tak beruntung, dalam data  Real Count KPU RI, Dede hanya mendapat perolehan 11 suara dengan data masuk 514 dari 1.407 TPS (36,53 persen) dilansir dari tribuntimur.com, Kamis (22/2/2024).

Tentu, tidak semua calon bernasib na’as seperti kedua calon gagal di atas. Keduanya berbeda dengan Komeng. Mitos mahal menjadi caleg berhasil dipatahkan oleh dirinya yang mencalonkan sebagai Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari daerah Jawa Barat.

Berdasarkan data Real Count KPU RI per Kamis (22/2/2024) pukul 07:01 WIB. Pemilik nama asli Alfiansyah Bustami alias Komeng telah mendapat perolehan 1.959.985 suara dengan data masuk 84.463 dari 140.457 TPS (60,13 persen).

Diketahui Komeng memang tidak mengeluarkan modal untuk berkampanye yang cukup besar. Hanya saja, menurutnya dalam dunia politik identik dengan tigal hal. “Memang kan biasanya kalau masuk ke politik itu katanya ada tiga ‘tas’. Popularitas, elektabilitas, dan satu lagi isi tas, Sedangkan saya isi tasnya kosong, saya tidak banyak menggunakan itu,” tutur Komeng.

Dengan demikian dari munculnya sisi relatif ini. Seberapapun modal yang dikeluarkan oleh caleg, tidak selalu berbanding lurus dengan suara yang diperoleh. Pada titik tertentu, suara akan hadir tanpa dibeli.

Sebab sebobrok-bobroknya pragmatisme masyarakat saat ini, selama kiamat masih lama, masih ada orang yang berpikir sehat. Terbukti, saat ini Komeng hadir sebagai Bentuk Perlawanan Mitos “Banyak Uang Pasti Menang”. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *