Hari Milad Mahbub Djunaidi: Meneladani Spirit Juang Pendekar Pena yang Melek Politik

AGITASI.ID – Mula – mula… jika sepintas mendengar sosok mahbub djunaidi, maka yang terbesit dalam diri kita adalah ia seorang sastrawan-politisi dengan gaya humoris tingkat tinggi. Ini tercermin melalui setiap hasil coretan penanya yang selalu tak terpisahkan, antara realitas sosial dengan realitas politik dizamannya, dengan gaya bahasa jurnalistik-sastra yang cukup rapi dan disertakan bumbu humor yang begitu renyah, seakan – akan sang pembaca menikmati dan sasaran subjek kritikannya tak membuat sakit hati.

Mahbub adalah pria yang lahir pada tanggal 27 juli 1933, seorang jenius dalam melihat situasi dan keadaan indonesia saat itu, maka tidak menjadi heran jika dalam setiap argumentasi tertulisnya, ia tak pernah gagal ikhwal apa dan kepada siapa yang ia kritisi. Maklum, sejak masa kecilnya ia sudah dihadapkan dengan revolusi fisik bangsa ini. Melihat dan merasakan kesejahteraan, kemakmuran serta keadilan yang berujung pada penindasan itu sudah menjadi kebiasaannya setiap hari (mahbub djunaidi, “dari hari ke hari”).

Bacaan Lainnya

Sebagai seorang manusia yang terdidik oleh pengetahuan dan realitas, ia adalah bagian dari sejarah dalam bangsa ini, utama nya dimasa orde lama – orde baru. Sungguh tak cukup bahasa untuk menceritakan seluruh altivitasnya dikala itu. Namun, sebagai seorang kader nampak perlu untuk sedikit menggambarkan tentang sepak terjang beliau dalam rangka tambahan spirit juang ditubuh organisasi yang memiliki visi nilai semacam PMII.

Mahbub djunaidi dan PMII

Sebagai organisasi kemahasiswaan terbesar saat ini, PMII dan Mahbub djunaidi adalah satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan. Pasalnya semenjak berdirinya pada 17 april 1960, mahbub djunaidi adalah orang yang pertama kali diberikan mandat berupa amanah dan tanggung jawab yang cukup besar untuk memimpin PMII yang masih berstatus bayinya NU kala itu.

Diusia PMII yang masih belia, mahbub djunaidi cukup memiliki mental berani sebagai seorang pemimpin, ia tak gentar dengan dinamika internal PMII-NU hingga pada dinamika politik nasional. Sebab urat aktivismenya sudah teruji saat ia masih berusia belasan tahun. Hal tersebut terbukti pada tahun pertama ia memimpin PMII, setahun terhitung dari berdirinya lebih tepatnya pada tahun 1961 pada kongres pertama PMII yang bertempat ditawanglangu mendeklarasikan 13 cabang secara bersamaan. Sebagai upaya penguatan basic struktur PMII (fauzan alfas, simpul – simpul sejarah perjuangan PMII). Selain pada wilayah dan urusan internal organisasi, PMII juga menyampaikan pokok fikiran yang kemudian disebut sebagai deklarasi tawangmangu yang meliputi pandangan dan sikap terhadap sosialisme indonesia, pendidikan dan kebudayaan nasional serta pertanggung jawaban. Hal tersebut dilakukan sebagai refleksi PMII terhadap isu nasional pada saat itu.

Baca Juga :  HAM DI ATAS SEGALANYA: Quo Vadis Sepakbola Indonesia?

Sebagai organisasi yang bernafaskan islam ahlunnah wal jamaah (Aswaja). Tentu ada pesan nilai yang menjadi pijakan gerak juang PMII dalam setiap aktivitas gerakannya. Dititik ini, sebagai nahkoda ia cukup jeli menentukan arah gerak organisasi. Kapan seorang mahbub tetap harus menjaga hubungan serta nama baik induk besarnya yakni NU, yang boleh dianggap cukup dekat dengan tampuk kekuasaan. Sementara disisi yang lain, ia harus mempertahankan integritas ditubuh organisasi yang senantiasa istiqomah dijalur idealisme-kritisme sebagai seorang aktivis. Dari pelbagai kebijakan yang berujung kepada realitas yang tak sejalan dengan fikiran dan harapan rakyat pada umumnya.

Mahbub djunaidi dalam kancah politik

Senada dengan baground beliau sebagai seorang aktivis yang terdidik dengan pisau analisis yang cukup tajam, nampak menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang mahbub untuk melanjutkan perjuangan politik dengan berkiprah didunia pemerintahan (birokrasi). Siasah politik tentu menjadi keharusan bagi seorang pejuang sejati. kendati harus dihadapkan kepada situasi politik yang mencekam kala itu. Tak dapat dipungkiri, peralihan orde lama dibawah tampuk kekuasaannya soekarno ke orde baru dibawah kemimpinan soeharto yang cukup kuat dengan gaya militerismenya. Menjadi tantangan yang cukup pelik untuk dilewati oleh seorang mahbub.

Secara politik kadar kemampuannya sudah tak dapat diragukan lagi, pasalnya ia mampu memiliki siasah serta memberikan kontribusi nyata dilevel kemimpinan, baik didalam organisasi kepemudaan hingga partai politik. Ada banyak rentetan uji kepemimpinan yang sudah dilalui dari berbagai macam tempat. Dimulai-dari menjadi ketua ikatan pelajar pemuda indonesia (IPPI) 1952, ikatan pelajar nahdlatul ulama (IPNU) pada dekade 50-an saat ia duduk dibangku SMA, ketua umum PP. PMII dari tahun 1960 – 1967, ketua PP. GP Ansor hingga berlanjut menjadi salah satu fungsionaris penting di NU. Lebih tepatnya sebagai wakil ketua PB. NU pada dekade tahun 70 an tatkala saat itu NU sebagai partai politik sebepum adanya fusi parpol kala itu.

Selain jabatan politik ditubuh organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, dengan spirit kecintaan dan keperpihakan kepada kecil, Mahbub djunaidi ikut terlibat dalam aktivitas politik pemerintahan. Sejak tahun 1960 ia sudah terjun didalamnya sebagai anggota DPR-GR/MPRS. yang sudah menjadi barang tentu ia pro aktif memperjuangkan kepastian undang-undang sebagai sebuah cita – cita kemerdekaan. Terlebih lagi yang menyangkut pada persoalan hak asasi manusia (HAM). Yang bernama politik tetaplah politik, dalam perjalanannya ia sempat ditahan tanpa sebab-peradilan yang jelas, tepat menuju tahun pemilu pertama ditahun 1977, hanya karena keluar masuk kampus untuk memenuhi undangan menjadi pembicara (penceramah). Dalam kondisi inilah, pada saat yang bersamaan ia mengalami drop dalam kesehatan fisiknya (mahbub djunaidi, “asal – usul”)

Baca Juga :  Hati-Hati Pak! Nanti Sosialisasinya Bablas ke Alam Lain: Sebuah Peringatan Buat Bapak Rektor Tercinta

Mahbub djunaidi: sastrawan dan jurnialis

Pada wilayah kepiawaian dalam tulis menulis mahbub djunaidi adalah orang yang tidak bisa diragukan lagi kemampuannya. Ir. Soekarno adalah satu tokoh yang menjadi saksi sejarah akan kemampuan dirinya dalam kepenulisan. Sebab dalam banyak hal, bahkan setiap aspek kehidupan mahbub selalu hadir dengan karya tulisnya baik melalui majalah, cepen hingga media massa kala itu. Yang sudah barang tentu diringi oleh sifat humor, jenaka serta kejernihan disetiap hasil coretan penanya.

Sebagaimana kiprah dalam organisasi dan politik, seorang mahbub menghabiskan waktu produktifnya dihabiskan untuk menulis, kerajinannya membuat mahbub tidak absen dalam mengisi kolom berita dan media massa. Mulai dari cerita pendek (cerpen), novel hingga pada kritik terhadap banyak kebijakan pemerintah. Tentu dengan sajian yang begitu indah dengan bahasa yang ringan serta dapat dimengerti oleh si pembaca. Beberapa hasil karyanya seperti : hari ke hari, politik tingkat tinggi kampus, asal usul dan berbagai macam kasya tulis lainnya.

Bisa dikata seorang mahbub adalah wartawan yang selalu hadir dalam pemberitaan kala itu.”…Saya gemar berkelompok. Misalnya, saya senang campur ditengah para politisi, yang katanya sejenis binatang juga. Walaupun saya tidak merasa jadi pensiunan sama sekali (karena wartawan itu pekerjaan yang tidak ada ujungnya…”(pensiunan, kompas 7-12-1986). Kalimat tersebut menjadi petanda bahwa ia sangat mencintai dunia kesastrawanan. Pelbagai macam lembaga pers beliau keluti salah satunya adalah duta masyarakat (koran NU) dan PWI. Acapkali ia juga mengisi rubrik hariannya, selain itu mahbub juga pernah menjadi pimpinan didua lembaga pemberitaan tersebut.

Kepiawaian dalam tulis menulis, ada tema besar yang menjadi ghiroh semangatnya. Bahwa ia adalah sosok yang memiliki keprihatinan terhadap lemahnya budaya bangsa; irasionalitas, feodalisme dan ketidakadilan. Seperti apa yang sepintas dijelaskan diatas, bahwa ia seringkali memberikan nilai kritik dalam setiap tulisannya tanpa membuat hati yang dimaksud terluka. Hingga sebelum ia wafat pada tanggal 01 oktober 1995 mahbub djunaidi masih istiqomah dijalur kepenulisan sebagai bentuk dari pengewanjatahan dari setiap aspek pemikirannya terhadap realitas.

Selamat hari lahir mahbub djunaidi, tak hal lain yang dapat kita sebagai kader perbuat. Terkecuali mengenang masa hidup sebagai satu spirit juang sebagai seorang aktivis dalam setiap aktivitas organisasi. (*)

Penulis: Moh. Sa’i Yusuf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *