Harga Beras Naik, Mantan Politisi Ini Malah Kritik Kenaikan Harga Skincare

AGITASI.ID – Belum lama ini, kabar tentang harga beras naik menjadi sorotan publik. Sambatan dari masyarakat cukup serius.

Karena sebagai bahan pokok utama makanan sehari-hari, lonjakan harganya sungguh tidak wajar. Walaupun demikian, ada tokoh yang malah mengkritik nalar masyarakat.

Bacaan Lainnya

Salah satunya adalah mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Ia memberi komentar agak menohok. Sebab, kebiasaan di masyarakat suka terbalik. Mereka dianggapnya lebih memilih memprotes beras daripada mahalnya harga pemoles wajah.

Aktivitas Dedy sekarang sebagai petani. Apapun yang dirasakan oleh petani dia mengerti. Ia menuturkan, “Kemudian sekarang harga beras naik semua orang pada ribut. Mereka tidak tahu susahnya kita (petani) ini seperti apa,” kata Dedy pada laman jabar.viva.co.id (Minggu, 25/2).

Bahkan tidak berhenti di situ, ia juga berkomentar tentang masyarakat yang mengira kenaikan beras, adalah imbas dari bansos saat kampanye. Lelaki setengah baya itu mengungkapkan bahwa persoalan kenaikan harga beras cukup jauh jika dikaitkan dengan kemenangan dari calon presiden (capres) Prabowo Subianto. “Harga beras naik kok yang disalahkan Pak Prabowo ? Pak Prabowo itu saat ini Menteri Pertahanan bukan Menteri Pertanian,”.

Bahkan ia mengaku terheran-heran. Protes naiknya harga beras terdengar nyaring dari konsumen aktif pembeli skincare. Sebagaimana disebut oleh Dedy soal pandangan masyarakat yang menurutnya terbalik. Terlihat sekali, jika harga beras naik teriak lebih keras. Sedangkan ada harga skincare naik hanya bisa tutup mulut. “Harga skincare, rokok, HP, motor, baju naik diam saja tetap pada beli, giliran harga beras yang naik ribut semuanya serasa dunia mau kiamat,” kritik Dedy dilansir dari laman democrazy.id (Selasa, 27/2).

Baca Juga :  Riuh-Riuh Kontestasi IKA PMII Jember(Yuk telisik “Baiknya” Niat Politisi Jadi Calon Ketua)

Anggapannya, masyarakat tidak sadar jika ada pandangannya terbalik. Pasalnya, mental konsumtif masyarakat sudah terbiasa rela mengeluarkan uang demi menuruti kebutuhan yang belum tentu itu bersifat primer. “Di kita itu suka terbalik, mending makan hanya pakai sambal daripada tidak pakai gelang,” ucap Dedy.

Masyarakat tidak mungkin makan skincare dan aksesoris, tentu dengan nasi. Kalau pun ada yang pakai roti, itu hanya semata untuk makanan pengganti.

Itulah kenapa Dedy mengkritik pandangan masyarakat yang terbalik. Oleh karena itu, coba ditingkatkan protesnya. Sesekali bisalah memprotes harga skincare yang naik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *