AGITASI.ID – Beberapa hari yang lalu sempat bertebaran tentang statuta kampus yang di dalamnya membahas etika  mahasiswa saat menghubungi Dosen atau Tendik tingkat fakultas. Yakni di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KHAS Jember.

Harus banget yah, ada aturan tentang etika begini? Oke, saya akan bahas per point tentang etika tersebut, apakah telah sesuai dengan standart manusia dalam beretika yang beradab.

Pertama, saat akan menghubungi Dosen atau Tendik kita harus menyesuaikan foto profil; dapat dipastikan foto profil yang kita gunakan dapat dikenali dengan jelas. Saya nggak yakin tuh semua dosen, staf, dan karyawan mengenali mahasiswa satu fakultas yang beribu-beribu nyawa di dalamnya. Lalu apa makna menyesuaikan foto profil yang jelas? Bisa saja menggunakan foto profil Najwa Shihab dengan jelas sudah dianggap menyesuaikan foto profil. Sungguh ini rancu.

Sumber: Hasil tangkapan layar website FTIK UIN KHAS Jember

Kedua, harus memperhatikan waktu; kita dituntut memperhatikan waktu dalam menghubungi telfon, SMS, wa, dan lain-lain, hindari jam istirahat atau hari libur. Oke, hal ini memang wajar untuk jam istirahat. Namun jika dilihat realitasnya, banyak guru honorer yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan anak didik nya. Banyak guru Sekolah Dasar yang mau mendampingi anak didik nya belajar diluar jam kerja dinas. Dosen ini sudah melebihi Raja, ingin diagungkan dan selalu dimengerti setiap waktu.

Ketiga, menggunakan bahasa yang sopan; ini perlu diluruskan. Tidak ada mahasiswa yang akan menghubungi Dosen di mulai dengan kata-kata kasar. Mesti menggunakan bahasa yang baik dan benar. Wong sudah menempuh jenjang SD, SMP, SMA ya mesti sedikit banyak belajar etika Lo.. Apalagi UIN KHAS Jember notabene berlatar belakang dari alumni pesantren. Ya masak mau diragukan tentang etika dan moralnya? Tunduk dan patuh terhadap guru itu menjadi acuan santri dalam menuntut ilmu, agar berkah dan manfaat. Lo, ini kok masih dibuatkan aturan tentang Etika.

Keempat, memperkenalkan diri; introductionyourself lagi nih ceritanya. Ya gak apa-apa biar tau identitasnya tambah jelas. Ini dapat dimaklumi, sebab usia pendidik lebih sepuh. Namun jika dibuat baku menyeluruh, sama artinya semua dosen tak kenal peserta didiknya dengan baik. Aturan ini padahal muncul dari fakultas ilmu para pendidik lo.. Masak guru yang baik tak kenal pada muridnya? Tukang ternak sapi saja, tahu identitas sapinya.

Kelima, gunakan bahasa permohonan; mohon maaf, padahal nggakpunya salah udah di dekte mohon maaf.Aturan ini melatih peserta didik selalu salah. Jadi kalau mau terus merasa bersalah ya mari kuliah di fakultas FTIK UIN Kiai Ahmad Shiddiq Jember.

Keenam, langsung ke inti; sampaikan singkat dan jelas. Bertele-tele kepada dosen ternyata juga tidak baik mungkin karena pemborosan kata. Namun, apa benar pendidik yang baik adalah yang bosan mendengarkan perkataan muridnya. Pemilihara burung saja, tak bosan mendengar ngoceh peliharaannya.

Ketuju, Berperilaku baik; tidak memaksa, tidak menggurui, dan mengucapkan terimakasih. Perilaku baik hari ini bisa dinilai secara virtual ya. Jadi mahasiswa dituntut untuk berperilaku baik secara virtual. Atas dasar apa perilaku baik bisa dinilai dari aspek virtual?. Yang aneh, dalam aturan juga“larangan menggurui”. Apa maksudnya tidak dilarang memberi masukan. Nabi saja, kadang minta arahan pada sahabatnya. Ini hanya dosen lo, kok lebih keren ya?. Mungkin sudah merasa jadi tuhan kale.. Kalau dosen manusia biasa, pasti merasa punya kelamahan. Otaknya tidak sempurna. Butuh ide dari orang lain juga.Atau jangan-jangan, dosen menganggap mahasiswa itu kerbau. Dianggap tidak punya otak untuk saling memberi masukan.

Membuat aturan, tidak usahlah genit-genit. Tak usah meremehkan etika peserta didiknya.Sebagian besar manusia sepertinya sudah paham bagaimana cara beretika yang baik dan beradab. Adab-adab manusia dalam beretika/ moral menggunakan tolak ukur norma yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Rasionalnya mahasiswa ini sudah bertahun-tahun tumbuh dan berkembang dalam norma ajaran etika yang baik di lingkungan pendidikan, apakah masih perlu diajarkan etika dalam menghubungi Dosen. Ini lucu.

Kita relevansikan dengan dosen atau seluruh guru yang ada. Selama ini guru juga hanya patuh oleh aturan dan keadaan. Jika tidak mereka akan kehilangan pekerjaan nya sebagai guru.

Kini saatnya guru melihat kembali bahwa ‘mengajar’ bukan hanya dari atau memberi pengetahuan, tapi juga mendukung adanya perlawanan. Wahai guru, murid-muridmu  tidak hanya menghargai pengetahuan, mereka juga menghargai pekerjaanmu sebagai guru. Buatlah sistem pembelajaran yang mengenalkan realitas sosial, bukan sekedar melatih tipu-menipu.

Baiknya, kita sadar bahwa lembaga pendidikan tak bisa menanam ilmu hanya dengan modal kepatuhan dan hafalan. Baiknya juga, sebagai guru dan seluruh calon-calon guru di dunia ini sadar bahwa guru yang baik mendidik itu melawan. Melawan KEDZOLIMAN!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.