GELORA KEBANGKITAN PERPUSTAKAAN UIN KHAS JEMBER; Kritik Iseng Sang Kepala Yang Terlambat Modern

AGITASI.ID – Siang itu (12/12/23) kami sengaja menemui Cak Hafidz  (panggilan akrab kami) di ruang kantornya (Perpustakaan Universitas Islam Negeri Kiai Achmad Siddiq Jember), setelah sebelumnya menghadiri sidang sahabat-sahabat yang terlibat mengabdi di kepengurusan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisaritat UIN KHAS Jember periode 2022/2023. Entah dengan kebetulan, di ruangan itu ada Pak Erfan Efendi yang istirahat setelah lelah memberi mata kuliah pada mahasiswanya. Cak Erfan bangun dari tidurnya karena mendengar kami mengucap salam.

Sebernarnya tidak ada maksud khusus dari pertemuan kami. Melainkan hanya iseng dan penasaran ingin menengok kantin baru yang ada di perpustakaan. Tak lama setelah kami masuk ke kantornya, ia menyuruh untuk memesan di kantin yang baru itu. Lantas salah satu dari kami mengiyakan dan beranjak memesan dua kopi hitam robusta berikut dua Nutrisari es. Tampak di atas meja ada bubuk kopi yang terbungkus rapi, “kopi ini asli Ijen yang dibeli langsung dari petani Sempol” ia memamerkan serbuk kopi yang masih tertera label harganya. Sesaat kemudian, perempuan berkerudung merah muda masuk membawa nampan berisi pesanan kami sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Konsep kantin sudah tidak asing, dan banyak dijumpai di perpustakaan besar. Fungsinya salah satu fasiltitas pendukung kenyamanan mahasiswa saat mengunjungi perpus. Mahasiswa bisa membaca buku sambil bersantai menikmati menu yang ada di kantin. Fasilitas lain yang tak kalah lebih penting, tentunya kualitas buku.

Perpustakan seperti Maktabah Al-Azhar Asy-Syarif, yang ada Universitas Al-Azhar Kairo, memiliki fasilitas yang sangat istimewa. Sehingga Maktabah Al-Azhar Asy-Syarif  mendapat nominasi perpus terpenting nomer dua setelah perpustakaan dan arsip nasional Mesir. Atau contoh lain seperti British Library, yang tak tanggung mengoleksi 14 juta buku, menjadikan perpus ini terbesar seantero Inggris bankan dunia. Tentu dua perpus ini menjadi cagak kuatnya ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  PEREMPUAN DAN KEMANUSIAAN

Di sela-sela diskusi, salah satu diantara kami ada yang mengusul padanya. “Kekurangan dari perpustakaan kita terletak di sistem Cak. Tugas akhir yang dipublish menjadi digital liblary itu bebas akses. Semua bisa mengakses dengan bebas mulai dari bab satu, hingga bab terahir” ucap Sigit sembari meneguk kopi robusta Ijen itu. “Memangnya kenapa kalau semua bebas akses Git? Kan gak masalah, bukannya semua perpus juga begitu!” Cak Hafidz yang terlambat modern itu menanggapi ungkapan tersebut.

Menggunakan bahasa yang harmonis Sigit menguatkan dengan kalimat begini “Loh Cak, gaagasan itu mahal. Begitupun dengan karya tulis dari tugas akhir kita (mahasiswa). Lalu sama perpus dipublish dengan telanjang, terutama pada bab empat yang berisi pembahasan. Kalau di kampus lain, untuk ngakses digilib harus login dengan username dan password. Hanya untuk mahasiswa di kampus tersebut. Kalau tidak login atau mahasiswa luar kampus hanya bisa ngakses pendahuluan dan penutup”. Oh gitu ya Git, nanti coba tak usulkan perihal ini.

“Iya Cak, itu penting. Kemaren ada salah satu mahasiswa pascasarjana doktoral yang hendak menerbitkan disertasinya menjadi buku, tapi batal karena disertasinya bebas akses. Tidak dikunci. Jadi gak bisa dijadikan buku, penerbit gak mau menerbitkan Cak. Kalau diterbitkan gak bakal laku, sebab meski tanpa beli buku tersebut, semua orang bisa ngakses di digilib”, Saya yang mendengar percakapan tersebut pun mengurun komentar pada ia yang kemaren menjadi majelis pembina Komisariat PMII UIN KHAS Jember.

Ternyata tak keliru adanya statement karya itu mahal. Hanya bangsa kerdil yang tak menghargai karya. Bangsa-bangsa besar yang ada di Barat sana menghargai sekecil apapun karya. Tidak hanya bangsa Barat yang menghargai karya, bangsa timur juga sama. Dahulu ketika Bangsa Barat menemui masa kegelapan (dark age), Islam dengan Bani Abbasiyahnya menuai julukan sebagai puncak keemasan Islam (the golden age of Islam). Julukan tersebut tidak bisa dilepas dari bangkitnya ilmu pengetahuan Islam, sehingga menjadikan pemeintahan dinasti Abbasiah sebagai pusat peradaban. Barang pasti kunci pesatnya kebangkitan ilmu pengetahuan tersebut ditunjang dengan perpustakaan Baitul Hikmah didirikan oleh Raja yang cinta ilmu, bernama Harun ar-Rasyid.

Baca Juga :  PEPATAH dan GAME SLOT

Inilah alasan statement yang dibenarkan oleh sejarah peradaban bangsa yang besar. Pusat peradaban tentunya beriringan dengan bangkitnya kesadaran ilmu pengetahuan, tidak tekecuali pemerintahan Islam. Baitul Hikmah yang eksis pada kekuasaan Raja Harun menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan, pusat masuknya literatur asing diterjemahkan ke bahasa Arab menjadi konsumsi cendikiawan Muslim.

Pertemuan siang itu sebenarnya tidak hanya satu tema pengembangan perpustakaan, kita mendiskusikan banyak ihwal. Beberapa dari kita yang sudah sidang skripsi ditanya satu-persatu perihal judul dan diujinya secara pemikiran. Sementara di luar, hujan ikut berisik menurunkan mengalirkan rahmah ke bumi. Pertemuan yang diisi dengan diskusi santai itu berdurasi kurang-lebih dua jam. Sebelum kami beranjak pamit dari ruangan, Sigit menunjukkan pada Cak Hafidz yang terlambat modern itu ihwal bab yang harus dikunci aksesnya di digital library menggunakan komputer di kantor tersebut. Ia menatap dengan cermat layar komputer dengan kacamatanya.

Diakhir Ia menginformasikan pada kami, bahwa Ia mempunyai planning mengopname perpustakaan untuk sementara waktu. Perpustakaan akan tutup pelayanan selama dua mingguan untuk fokus memperbaiki fasilitas pelayanan perpustakaan. Termasuk usulan dalam diskusi kita siang itu akan Ia bawa dalam dapat perpustakaan. Besar harap di dalam hati, semoga gagasan yang baik ini dilakukan dengan seksama dalam tempo yang tidak lama. Meskipun banyak dari kita yang menyumbang usul telah dipenghujung tanduk di kampus ini, tetapi semoga bermanfaat bagi mahasiswa secara umum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *