Jember, agitasi.id – Fakultas Syariah, dalam beberapa tahun terakhir bisa terbilang kategori fakultas yang inovatif. Sudah tentu mahasiswa dan dosen akan sepakat dengan keinovatifannya, meski belum ada survei khusus terhadap anggapan ini. Pasalnya, Fakultas Syariah bukan sekedar menjadikan inovatif sebagai jargon, melainkan banyak dibuktikan dengan pelbagai programnya.

Ke-inovatif-an fakultas syariah erat kaitannya dengan jajaran dekanat. Selepas menggantikan Alm. H Sutrisno (mantan dekan fakultas syariah, beliau terkenal wara’), Prof. Dr. M. Noor Harisuddin M. Fil.I getol menyuarakan kata inovaif ini. Banyak program baru, komunitas dan media di fakultas Syariah yang lebih baik dari sebelumnya. Benar saja, media apa yang fakultas ini tidak punya? hampir semua ada dan terfasilitasi. Dari media kelas kakap, hingga media kelas teri. Dari media yang berbuah manfaat sampai media yang kurang bermanfaat. Sebut saja Media Center, Media Center ini sekarang lengkap dengan E-Korannya. Tik Tok juga ada, dilengkapi dengan video-video gelay, alay-nya. Media yang terakhir ini bisa terbilang manfaatnya kurang terbaca. Namun sebagai mahasiswa, penulis tidak punya daya kecuali ber-husnudzan terhadap fakultas yang kita cintai. Sungguh selain fakultasnya berlabel Syariah, penuh berkah ini, juga fakultas yang melimpah keinovatifannya.

R.Q. Hulwana selaku ketua Sema-F Syariah menyampaikan “media Tik tok Fakultas ditujukan agar fakultas mengikuti trend dikondisi yang serba online. Namun seberapapun niat baik fakultas, selaku ketua Senat Mahasiswa dia tidak setuju sebab aplikasi Tik tok bukan tempat resmi dan sebagai sentrum khazanah keilmuan kurang pantas fakultas memiliki Tik tok. Ketidak setujuan ini dibuktikan ketika Dekan meminta agar Republik Mahasiswa membuat video Tik tok, dan permintaan bahkan sampai tulisan ini dibuat belum juga dikabulkan oleh ketua Sema,” terangnya saat dihubungi tim agitasi.id.

Kalau niat baiknya hanya agar trendi, saranya tiktok bukan solusi dan pelarian yang tepat. Toh banyak platfom yang lebih pantas dari tiktok. Artinya untuk sekedar mempromosikan fakultas yang sama-sama kita cintai ini bisa dengan cara lain yang lebih aestetic dan elegan. Misal video cinematik tentang fakultas syariah dari masa ke masa, kemudian di upload di akun youtube. Apakah jajaran Dekanat tidak sempat memikirkan hal demikian, atau minimal mempertimbangkan nama besar lembaga?.
Ketua Dema-F B.A. Mubarak, berpendapat bahwa “semua niat fakultas kemudian yang dituang melalui program merupakan hal yang baik dan benar-benar inovatif, hanya saja cara merealisasikannya tidak tepat, kurang pantas, dan tak elok,” tegasnya.

Semua elemen fakultas syariah menginginkan yang terbaik. Dekanat, Dosen dan Mahasiswa, hingga petugas kebersihannya pun begitu. Tinggal bagaimana cara menbuat baiknya perlu di telisik dan diperbaiki kembali. Semoga tulisan ini bisa mewakili kegelisahan mahasiswa yang sambat di instasory. Salam satu gelisah.

Pewarta : Muhammad Riyadi
Editor : Erisha Najwa Himaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.