AGITASI.ID – Tulisan ini di unggah sesuai dengan realita yang sering terjadi di sekitar kehidupan manusia. Akan ada banyak yang related dengan kejadian-kejadian unik yang sempat dilakukan secara sadar oleh kebanyakan orang. Seperti yang kita ketahui, bahwa media sosial penuh dengan keanehan yang menyelimutinya dan hal itu memang benar adanya. Mulanya, ada seorang teman yang mengunggah foto pernikahannya di salah satu lama media sosialnya. Di kolom komentar seseorang yang tidak ia kenal mengomentari model pakaian pernikahannya yang menurutnya pakaian si pengantin tidak muslimah. Pada akhir komentar nya ia mengeluarkan jurus “Maaf sekedar mengingatkan.” Komentar tak menohok juga sering saya jumpai dalam kolom-kolom komentar media sosial “lebih cantik berkerudung, maaf sekedar mengingatkan”.

Hal ini membuat saya geram,  tentu melahirkan ribuan kata hati yang perlu diledakkan dalam tulisan ini. Foto pernikahan yang seharusnya penuh dengan doa, komentar positif, dan bahagia kok masih sempat-sempatnya dibikin kisruh dengan nasihat yang tidak pada tempatnya seperti itu.

Fenomena ini tentu saja menggangu. Etika pribadi seseorang bersumber dari nilai kebenaran yang ia yakini bisa jadi berbeda dengan orang lain. Nah, akan tetapi kelompok muslim agresif yang menganggap klaim kebenarannya adalah suatu hal paling benar, lantas mencoba masuk ke dalam wilayah pribadi orang lain.

Jika demikian analisisnya adalah, kemanusiaan perempuan hanya didefinisikan dari pakaian yang melekat pada tubuhnya saja. Muslimah yang kerudungnya sudah panjang, diingatkan memakai gamis model tertentu dan tidak lupa kaos kakinya. Jangan-jangan para pengingat ini adalah penjual pakaian dengan model tertentu tersebut? Mereka memakai judgement syar’i hingga seolah-olah menentukan satu-satunya model pakaian perempuan yang benar menurut Islam. Padahal Al-Qur’an bukanlah kitab mode.

Saya juga selalu ingat dengan kejadian bom bunuh diri pada Mei 2018. Seorang istri dan seorang ibu percaya bahwa jika mengikuti segala perbuatan dan perkataan suaminya untuk menjadi martir terror akan berbuah surga. Bahkan sampai mengajak anak-anaknya yang masih kecil. Perempuan muda berusia 25 tahun menjadi teroris di mabes polri adalah salah satu korban orang tua yang berspekulasi bahwa lebih baik anaknya berteman dengan orang-orang mengaji dari pada dengan orang-orang yang melakukan maksiat. Tapi ia sama sekali tidak paham bahwa pengajian yang diikuti anaknya adalah pengajian mengarjarkan sikap keberagaman yang eksklusif dan ekstrem. Harusnya tren “maaf sekedar mengingatkan” dijadikan kebiasaan untuk  untuk mencegah semua orang yang telah kehilangan kemandirian berfikir dan daya kritisnya. Terutam terhadap pola pikir perempuan seperti contoh kasus diatas.

Bagaimana kita bisa melacak tren perilaku “maaf sekedar mengingtakan” ini?

Pertama, sebuah tradisi baru dibangun oleh kelompok muslim agresif. Mereka membangun sebuah wacana masyarakat muslim bahwa mereka, sebagai pihak yang tidak disenangi oleh kelompok lain harus melindungi diri sambil berekspansi dakwah. Di dunia digital, gawai adalah alat yang ada ditangan mereka sebagai pengganti senjata perang. Posting dan komentar mereka bagaikan peluru-peluru perang, tapi bernilai jihad dan pahala. Maka oleh sebab itu, mengomentari unggahan orang lain berati sama hal nya dengan membela agama di medan perang.

Bayangkan saja, seseorang bisa saja mengetik komentar sambil duduk di toilet, di bus, tidur-tiduran di kamar, tanpa pengorbanan dan tenaga yang berat, tanpa persyaratan apapun, tapi ia merasa telah memproduksi banyak pahala. Tentu saja aktifitas semacam ini banyak peminatnya.

Kedua, jebakan istilah “wanita berkarier surga”. Hampir semua buku tentang muslimah memiliki narasi isi dan makna sama yakni wanita berkarir surga adalah wanita yang dimuliakan Allah. Tapi, apakah makna  subtantif dari istilah sudah tepat?

Saya ambilkan contoh buku salah satu bab dalam buku seputar musliman “ciri-ciri wanita penghuni surga”. Beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, Berbakti kepada orang tua, Taat dan mneghormati suami, menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, gemar ibadah dll. Saya rasa surga muslimah yang ada di buku tersebut sangat kompleks dan sederhana, sekaligus terlampau imajinatif dan memprihatinkan. Padahal dalam realitas hidup, perempuan membangun surga bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk orang lain lewat kreasi dan hasil kerjanya yang lebih banyak bermanfaat untuk orang banyak.

Jangan menggunakan tren “maaf sekedar mengingatkan” kepada publik hanya karena telah merasa paling berpengalaman dalam meproduksi dosa atau hal-hal yang dilarang agama. Jika ilmunya masih kurang nggak ujug-ujug mengingatkan orang lain dengan melabeli atas nama agama. Bertumbuh dengan keyakinan bahwa Islam tidak bertentangan sama sekali dengan ide-ide humanisme itu jauh lebih nyaman lo, ketimbang ujug-ujug komentar yang katanya udah paling syar’i.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.