Jember, agitasi.id – Sebagai penyempurna sistem demokrasi kampus, di banyak perguruan tinggi lain, Partai Mahasiswa (PARMA) adalah salah satu jalan menuju kehendak bersama. Namun hal ini sama sekali tak dibutuhkan oleh mahasiswa STAIN Mangli.

Sebelum melangkah jauh, diksi ‘STAIN Mangli’ mungkin terdengar sedikit ganjil, tapi itulah kebanyakan masyarakat pribumi Mangli menyebutnya. Tak paham juga apa alasan kenapa mereka tetap sebut demikian. Padahal sudah jelas, tak sedikit media beritakan peralihan status kampus ini menjadi UIN. Apa mungkin mereka tak baca koran? wajar saja, apalah pentingnya informasi kampus bagi mereka.

Walhasil dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya memutuskan untuk mendiskusikannya dengan beberapa pengamat perkembangan kampus, aktivis lebih tepatnya. Dan tak habis banyak waktu, segera kami peroleh jawabannya. Dengan segala keyakinan yang entah datang darimana, kami sempat simpulkan. “Alasan kenapa kampus ini masih relevan disebut dengan nama STAIN Mangli, adalah kualtias moral mahasiswanya sama sekali tak ada kemajuan”.

Bagi mereka pengamat perkembangan kampus, baik aktivis maupun akademisi lokal dan non lokal, peralihan status ini dinilai lewati jalan perjuangan yang panjang. Butuh banyak tenaga, pikiran, materi, bahkan umur sekalipun dikorbankan untuk menggapainya. Salah satu iktikad mereka, tak lain adalah kualitas moral mahasiswanya juga dapat terakomodir dengan baik, semua ini karena status kampusnya yang naik, dan beban moralnya juga wajib naik.

Pendek sejarah yang saya ketahui, kampus ini terkesan sedikit mengerikan, entah karena pejabatnya yang doyan korup, atau mahasiswanya yang bejat. Beberapa cerita merasuki telinga saya tanpa sanad yang jelas. Poin yang saya ingat kampus ini punya sejarah yang terbilang cukup Jahlun.

Nah, dengan adanya peralihan status menjadi UIN, kampus ini pastinya diharapkan lebih reformis, baik secara intelektual dan yang terpenting secara moral. Entah apa pembeda keduanya, cukup ruwet kalo dibahas.

Balik ke persoalan awal, usai Pemilihan Umum Raya (PEMIRA)  beberapa pekan lalu, tak sedikit dari mereka mahasiswa STAIN Mangli merasa hak politiknya diambil, bahkan termasuk saya pribadi. Entah siapa yang mencuri hak privat ini, yang saya tau mereka sama kampretnya dengan tikus tukang nyolong kancut di kos an. Pemenangnya tak lebih dari seorang pecundang, dan yang kalah tetaplah memalukan. Sungguh  Menyebalkan!

Tak lama pasca pelantikan, mirip kebanyakan alur politik skala lokal sampai nasional, pihak oposan pun tetaplah dirangkul oleh pemenang, dan bersama tuai ide ide baru. Desas desus akan dirintisnya PARMA pun sampai ditelinga saya, ini semua ditandai dari munculnya beberapa kelompok yang mengklaim dirinya pemenang, sekaligus pembenar. Tajuk-tajuk semangat perjuangan pun mereka suarakan. Salah satu yang saya ingat adalah: Suara Mahasiswa Suara Tuhan. Hal demikian mungkin bagi mereka penting untuk menjadi pancingan kesadaran politik warga STAIN, wabil khusus mahasiswanya.

Yang jadi persoalan, apakah betul hari ini PARMA dirasa perlu untuk wujudkan demokrasi kampus yang sehat bagi STAIN? Atau jangan jangan PARMA hanya muncul saat PEMIRA? berikut alasan kenapa saya pribadi sebut mahasiswa STAIN Mangli ‘tak butuh’ PARMA.

#Ketiadaan sistem demokrasi itu sendiri  

Singkat kata, PARMA adalah lembaga yang berdiri dan hidup dalam lingkup sistem pemerintahan kampus demokrastis. Sistem pemertintahan kampus macam ini memanglah duplikasi dari sistem pemerintahan yang dianut Indonesia, mungkin. Dalam sistem tersebut dikenal bahwa suara rakyat lah suara tertinggi. Jikalau sistem ini benar benar ada di kampus, maka sudah jelas, suara mahasiswanya lah yang merupakan suara tertinggi. Namun apakah hari ini STAIN Mangli sungguh menganut sistem ini? Jelas tidak, tak perlu banyak alasan untuk menjelaskannya. Menengok berjalannya PEMIRA pekan lalu saja, sama sekali tak terlihat wujud binatang ‘demokrasi’ itu.

#Ketiadaan kesadaran partisipan

Kesadaran partisipan dalam sistem demokrasi adalah hal mendasar yang wajib dimiliki. Tak lain adalah mahasiswanya. Jelang 2 tahun saya hidup disini, dan sepanjang pengamatan mata telanjang, mayoritas mahasiswa STAIN masih adem ayem dengan kesibukan pribadi; hidup mengalir bercengkrama dengan hal yang mereka cintai, beberapa diantaranya hanya ngalor ngidul safari warung kopi, dan banyak jenis lain dengan bulunya masing-masing. Dalam kondisi ini, hadirnya PARMA jelas tak dibutuhkan. Mengingat bahwa kelahiran PARMA wajib melibatkan semua pihak yang bersangkutan. Kesadaran kolektif tak lain jadi intinya, keikutsertaan mahasiswa selaku warga jadi penentunya. Bukti jelas terpampang hari ini, isu tersabotasenya hak pilih dalam PEMIRA hilang tanpa jejak dari topik perbincangan warganya. Termasuk circle saya.

#Kesenjangan kelompok mahasiswa

Jurang antara mayor dan minor sudah jadi nafas kehidupan kampus ini. Sang dominan tetaplah raja yang tak pernah terkudeta jika si minor tetap diam saja. Hak privilege sudah mendarah daging semenjak 2 tahun silam saya memutuskan untuk bergabung bersama sang dominan. Dengan zona nyaman demikian, entah ini termasuk rahmat atau ujian. Tapi Alhamdulillah saya bahagia dan bisa lihai membaca kondisi sekitar untuk merenungkannya kembali.

Organisasi ektra maupun intra kampus, hari ini masih terbilang hanya fokus pada kegiatannya masing-masing, tak paham apakah itulah prioritas mereka, siapa gerangan juga mau menggubrisnya. Toh ini perihal pilihan antara pengabdian dan mengejar cita-cita untuk saku belaka. Tak lain pula komunitas-komunitas yang bagi saya tak jelas tujuan adanya. Namun sekali lagi ya Alhamdulillah jika hal ini jadikan mereka rukun kepada sesama. Meskipun kadang bermental mercon, sekali sulut langsung Dor.

Usai saya pahami keadaan demikian, peran masing-masing organisasi dan komunitas adalah kendaraan politik bagi penumpangnya sendiri. Adanya PARMA hanya akan menambah kendaraan baru yang tak jelas fungsinya. Idealnya mungkin sebagai dedikasi politik, tapi sepertinya tameng bendera saja.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.