“AKU GAPAPA KOK”

AGITASI.ID – Sering kali seseorang dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya menyerah. Kerap sekali manusia memaksakan kehendak agar semua terjadi sesuai dengan apa yang Ia inginkan. Saat beberapa hal yang diharapkan berakhir dengan tidak sesuai ekspektasi, begitu naif kalau kita gak bilang gapapa.

Bukanlah hal buruk saying gapapa, bukan juga kesalahan ketika mulai ngegapapain apa yang terjadi pada diri kita, hidup gak mengajarkan kita menjadi manusia yang pasrah, bahkan manusia pun dilahirkan dengan membawa banyak sekali harapan. Dari situ kita juga harus tahu pentingnya mengerti dan memahami. Paham dengan diri sendiri sehingga mampu menempatkan harus dimana kita berdiri, paham dengan apapun yang diharapkan oleh diri sendiri, paham dengan kemauan dan porsi diri sendiri. Lalu mengerti ketika apa yang ditakdirkan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi diri sendiri.

Bacaan Lainnya

“We suffer in imagination than in reality.” Seneca (letters)
“Kita menderita lebih di imajinasi kita dari pada kenyataan.”

Dunia bukanlah tempat untuk selalu mengabulkan apapun keinginan kita, “tidak adil rasanya jika realita kehidupan tidak menempatkan kita pada apa yang kita inginkan sedangkan orang lain malah merasakan” hampir semua orang pernah berfikir seperti itu sebelum mereka mengerti dan memahami tentang hidup yang sejatinya. Sering kali manusia tertipu dengan sesuatu yang terlihat menarik,seakan mereka bakalan Bahagia ketika menjadi apa yang dilihat menarik. Dulu akupun juga seperti itu, begitu enteng melihat hidup orang lain serba mudah,

” Ah,kenapa dia begitu mudah mendapat pekerjaan.” Lalu ternyata ia telah ditinggal ayahnya sejak kecil.
“ kenapa dia begitu mudah mendapat pasangan.” Ternaya dia sudah tak punya siapa-siapa sejak kecil.

Baca Juga :  SUARA PEREMPUAN DI NEGERI PARA BEGUNDAL

“kenapa dia diberikan harta sedemikian banyaknya.” Oh ternyata keluarganya sudah menjadi bagian dari tanggung jawabnya.
“kenapa dia begitu dicukupi oleh orang tuanya.” Dan ternyata dia hanya dicukupi materi bukan kasih sayang dari orang tuanya.

Semua itu merubah sundut pandangku juga mengurangi perasaan iri pada setiap orang yang dianugrahkan lebih, aku jadi berfikir: Apa yang tuhan telah ambil dalam hidupnya? Nikmat mana yang tuhat cabut?, pahit mana yang telah ia telan?,ujian apa yang telah tuhan berikan sehingga dia dianugrahkan kenikmatan seindah itu. Sebab kita hanya tahu sepersekian kecil dari kisah mereka, bahkan mungkin hanya bahagianya saja,manusia hanya mampu melihat apa yang tampakkan diluar tanpa tahu bagaimana dalamnya. Banyak dari mereka yang masih menstandarkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Ternyata bukan begitu cara manusia hidup, manusia mempunyai porsi sedangkan tuhan memiliki versi. Benar kata Secena, imajinasi dapat membunuh seseorang, pada dasarnya kita hidup dalam realita bukan ekspekatsi dan apapun bisa terjadi tanpa kendali kita.

Hidup adalah pilihan, tapi kadang kenyataanya tidak ada pilihan lain. Gapapa, itulah jalan yang pantas kita lalui, takdir terlalu abstrak untuk kita dapat menebak hari esok seperti apa, bahkan untuk satu jam yang akan datang kita tidak tahu apa yang bakalan terjadi. Sakit memang ketika kita dipaksa Ikhlas tapi tetap gapapa, selalu kejutan setiap kali kita sudah mengikhlaskan sesuatu. Gapapa untuk segala rasa sakit yang singgah,Gapapa untuk segala kegagalan yang pernah hadir, tanpa kita sadari rasa sakit dan kegagalan adalah hal penting untuk kita selangkah mencapai keberhasilan. Manusia ga mungkin berdiri kalau ia ga pernah jatuh, begitupun dengan kehidupan maka semakin cepat ia gagal semakin cepat ia sadar.

Baca Juga :  " STOP SAYING GAPAPA "

Hidup ga serumit itu kok, even hidup semenyenangkan itu, Kita hanya perlu menata hati kita lagi, Gak perlu sempurna dan ga bakal ada yang sempurna, Langkah kita sering salah dan kebanyakan bakal selalu begitu tapi gapapa beberapa kesalahan akan terus dan terjadi dalam hidup. semua yang ada didunia ini hanya sedang berproses “we all the same”, gak ada yang benar-benar baik kita semua hanya berusaha menjadi baik.(*)

Penulis : Ana Khoirotul Aini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *