Ajaran Perokok Mu’min Kala Berpuasa

Ilustrasi

Agitasi.id- Setiap muslim beriman yang perokok memiliki imajinasi unik pada setiap menjalankan ibadah puasa. Dari soal kemewahan hingga kepulan asap yang keluar dari mulutnya, kadang dibayangkan tidak sebagaimana pada umumnya.

Saya bersepakat bahwa rokok tampak bukan hanya candu bagi fisik. Namun otak dan pikiran juga sering tak berdaya menghadapi bayangan lezat dan nikmatnya.

Banyak yang mengatakan bahwa rokok tidak menyehatkan, tak ada gunanya dan menyebabkan boros. Iya, itu benar, namun tidak semutlak-mutlaknya kebenaran.

Mu’min Perokok?

Hukum merokok belum selesai. Masih banyak kontroversi mengenai haram, halal dan makruhnya.

Bagi yang mengharamkan, merokok sama dengan bunuh diri. Tentu banyak dalil yang dipakai.

Mulai dari penjelasan para ulama’, seperti dalam kitab ‘Hukmu Ad Diin fil Lihyah wa Tadkhin’ yang disusun oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid Al Halabi hafizhohullah. Hingga dalil dalam Qur’an seperti dalam surah al Baqoroh, ayat 195.

Tentu dalil tersebut tak usahlah dibantah. Sebab, mereka telah menganggap merokok tak ubahnya perbuatan pidana “membunuh diri sendiri”.

Namun, seabrek dalil itu tentu juga tidak boleh dijadikan dasar menyalahkan para perokok yang ternyata juga seorang mukmin. Apa yang salah, jika bagi mereka, merokok adalah bagian dari ibadah?

Bukan hanya merokok, yang dapat mengganggu kesehatan. Jika indikasinya, ditakutkan ada asap beracun,  Kenapa menghirup asap knalpot dan cerobong asap pabrik tidak diharamkan?

Jika merokok disebut membunuh diri sendiri, mestinya naik sepeda dan mendirikan pabrik juga diharamkan. Kedua perkara ini, jika diteliti, bahkan juga dapat diqiyaskan sebagai tindak pembunuhan pada sesama. Artinya, akan banyak tindakan yang masuk dalam kategori kejahatan dan dianggap menyalahi ajaran Qur’an.

Baca Juga :  Surat Terbuka Terdesaknya Masyarakat Sekitar UIN Kiai Haji Ahmad Shiddiq Jember

Padahal, Mu’min perokok tidak menganggap “menghisap tembakau” sebagai pencelakaan diri. Bagi mereka, setiap isapan adalah rasa syukur. Mereka telah mampu memadukan rutinitas merokok dengan ibadahnya.

Ditengah konflik sosial, mereka jadikan rokok penyambung silaturahmi. Di kesendiriannya, rokok jadi teman untuk mengontrol hasrat diri. Bahkan, jadi teman para ulama’ dan cendekiawan untuk mewariskan ide-idenya pada kita saat ini.

Merokoknya Mu’min Saat Puasa

Seorang Mu’min yang taat, mesti mampu membawa hal negatif menjadi bermanfaat. Merokok yang dianggap tidak sehat, ditangan mereka dapat jadi pintu kebaikan.

Merokoknya Mu’min selalu dilandaskan pada orientasi kebaikan. Setiap hisapan akan dimaknainya sebagai penenang jiwa yang sedang serakah.

Apalagi rutinitas merokoknya, dilakukan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Pasti, akan mempertebal kebermanfaatan puasanya di siang hari, yang memang bertujuan menekan keserakahan hasrat.

Setidaknya ada dua hal yang sangat unik dari merokoknya para mu’min di bulan puasa. Pertama, merokok dan puasa sama menenangkan.

Rokok memiliki zat yang dapat menenangkan. Nikotin namanya. Zat ini merangsang psikologis manusia untuk lebih tenang dan rileks.

Puasa juga demikian, ia melatih agar hasrat manusia melemah. Tidak lagi serakah.

Depresi selalu bersumber dari rasa ingin dan keserakahan. Jika hasrat keinginan semakin tinggi, ketenangan jiwanya akan semakin rendah.

Lantas apa hubungannya puasa dengan rokok? Keduanya sama melahirkan kondisi jiwa yang Mutmainnah. Penuh ketenangan dan kedamain.

Kedua, merokok bagi seorang mukmin saat buka puasa, merupakan ajaran kesederhanaan. Merokok melahirkan kepuasaan tersendiri bagi penikmatnya.

Mu’min perokok saat buka puasa akan lebih tergesa-gesa menikmati tembakau dari pada minum es cendol, es buah atau semacamnya. Sesederhana itu, ia mengganti kelaparan dan hausnya saat siang.

Baca Juga :  INDONESIA : Bualan Politik dan Tumpukan Rasa Lelah

Kesederhanaan ini yang melahirkan ibadah puasanya tidak lagi sekedar menahan haus dan lapar. Merokoknya para mukmin, melatih untuk menikmati buka puasa secara sederhana.

Bagi mukmin yang tidak merokok, saat buka puasa, susah untuk tidak balas dendam atas kelaparannya di siang hari.

Tentu, sangat beruntung mukmin yang merokok. Ia mampu menikmati buka puasa dengan sangat sederhana namun tetap penuh syukur.

Persis sebagaimana digambarkan oleh Mbah Sujiwo Tedjo, “Merokok membuat hidup jauh lebih sederhana, betul?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *